Cerita Pendek “Jihan Fahira”

4 minute read

Dihembuskannya perlahan-lahan asap rokok yang sedetik lalu disesapnya. Sorot lampu neon di tengah warung meredup terhalang kabut putih kecoklatan. Mukidi terdiam.

“Realita itu perih kawan, mending Kau balikan saja sama mimpi,” ujarnya sejurus kemudian sembari menampakkan sederet gigi yang masih sehat meskipun warnanya menguning langsat. Mencoba melucu, tapi tak lucu.

Riang hatinya mendengar curhat Parman, karibnya semenjak SMP dulu. Hampir lepas tawa yang dikekangnya sedari tadi. Untung masih pakem rem di mulutnya. Alhasil, hujan ludah pun batal membuncah.

Dihisapnya lagi rokok yang hampir habis. Kali ini lebih lama, mencoba menikmatinya. Tak bisa.

Tak tega ia melihat kawannya. Diurungkannya untuk menggoda. Ditimbangnya kata-kata yang kira-kira cocok sebagai penghiburan. Tak ada.

Dicucupnya teh hangat di depannya, dikumur sebentar, kemudian ditelannya untuk mendorong nasi yang tadi tak dikunyah sempurna. Kalau dipikir lagi, nasibnya pun tak jauh beda dengan Parman. Bahkan lebih kelam.

Jadilah dua patung yang kompak merenungi jalan kehidupan masing-masing sebelum kembali bertemu di warung ini. Berhadap-hadapan di bangku panjang, tapi tak saling pandang. Mirip patung Hashirama Senju dan Madara Uchiha di Lembah Akhir dalam komik Naruto. Dua karib yang berpisah selepas lulus SMP itu secara ajaib dipertemukan kembali.

Warung nasi kucing yang berubah menjadi tempat reuni dadakan itupun sunyi. Keduanya seperti terpisah oleh selaput tipis. Hanyut dalam lamunan masing masing. Mengembara, menggali sisa-sisa ingatan yang layak untuk menjadi pemecah kebisuan.

“Aku juga Man,” Mukidi merobek selaput kebisuan itu setelah beberapa lalat datang mengganggu.

“Kau tahu Rini? Yang kau bilang mirip Jihan Fahira itu? Kuikuti dia meneruskan SMA di Kota.

“Kukira dengan mengikutinya, bakal mulus jalan cintaku padanya.

“Yang kudapat ternyata cuma cerita bersambung mengenaskan tak berkesudahan macam sinetron Tersanjung.” Mukidi menutup kalimatnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti kuda yang mengusir gerombolan serangga dengan surainya. Cuma, kepala Mukidi bergerak dalam alur slow motion. Lebih mirip gerakan model iklan shampoo. Ada aroma kecut yang terpancar dari rona mukanya.

Oh, soal sinetron Tersanjung, jika kalian belum tahu, Tersanjung itu sinetron yang dulu ditayangkan di salah satu tivi swasta nasional seminggu sekali bakda Isyak. Yang hingga bertahun-tahun kemudian masih bertahan, mendominasi, meskipun pemeran utamanya sudah berganti. Ah… Kau benar, seperti sinetron Cinta Fitri, yang tayang saban malam. Jangan kau tanya jumlah episode-nya, keduanya layak dicatatkan di MURI. Yang disebutkan belakangan bahkan pindah tayang ke stasiun tivi swasta nasional lain hingga mencapai seribu episode.

Jemari Mukidi mengepal. Seolah ingin meremas kenangan pahit demi kenangan pahit yang mulai tergelar kembali di depan matanya. Sudah tak ada rokok di sela jemarinya. Sudah habis ketika keduanya masih hanyut dalam semesta sunyi. Parman diam saja mendengarkan. Mengelus rambutnya yang klimis berminyak Tanco. Bukan perokok, jika kau bertanya-tanya.

Sejurus, Dia berdiri. Niatanya ingin mengambil sepotong kerupuk dari dalam kotak kaleng yang dicat biru. Bukan kerupuk keriting yang belakangan diisukan dicampur plastik yang didapatnya. Raut kecewa membayang memandangi bungkusan plastik yang kini berada di tangannya.

Tangan Mukidi menahan ketika Parman bergerak hendak mengembalikan bungkusan plastik itu kedalam kotak kaleng yang terbuat dari bekas kemasan minyak goreng itu. Direbutnya dari tangan kekar Parman.

“Buat aku saja,” sembari merobek bungkus plastik yang berisi kerupuk mandala.

Dan bunyi kemeretak khas yang keluar dari mulut Mukidi mulai meneror warung di utara jalan pantura yang mulai lengang. Sudah hampir Subuh.

Parman kembali duduk, membenarkan ujung lengan baju kemeja putih necis yang digulung sampai ke lengan. Mengusap dahinya yang berpeluh.

“Kamu ini kok ndak berubah, masih suka main selonong saja.

“Ndak krupuk dan perempuan, Kau serobot saja tanpa permisi.

“Terus bagaimana si Rini? Tinggal di mana Dia sekarang? Sudah punya anak berapa sekarang?” Parman memberondong Mukidi. Berusaha mengorek informasi tentang cinta monyetnya dulu dari mulut sobat karib, sekaligus lawan duel yang pernah dikalahkannya. Rini yang menjadi taruhan duel semasa SMP itu.

Sayang, si Rini lebih membela Mukidi. Parman salah strategi. Dalam drama yang seharusnya Parman yang menjadi tokoh utama di sini ternalik alur ceritanya. Sungguh sial, Rini sang pujaan hati memergoki perkelahian yang tak imbang itu ketika Parman berhasil menghimpit leher Mukidi diketiaknya setelah berhasil meloloskan lehernya dari himpitan lengan Mukidi. Di mata Rini, Mukidi jadi Rangga, Parman jadi Borne. Dan Rini tetap jadi Jihan Fahira.

“Mahih hehawap aou?” Mukidi bertanya balik dari dalam mulutnya yang tersumpal kerupuk.

“Penasaran saja,” Parman menghindar, dan kembali memburu “Kau tahu kabarnya?”

“Mana kutahu.

“Waktu lulus SMA Dia meminta putus.

“Pacarnya banyak semenjak kelas 2.

“Dia jadi idola juga di Kota.”

“Haaa,” Parman membatin.

Sudut kiri bibir Parman terangkat sembari menatap ubun-ubun Mukidi yang masih memainkan plastik pembungkus kerupuk yang sudah tak berisi di ujung jarinya sambil menunduk. Asyik meneliti barisan semut merah yang melintas di bawah kursi panjang tempat mereka berdua duduk.

“Man, coba kau ambilkan kerupuk sebungkus lagi,

“Kecut mulutku, tak punya rokok.” Mukidi mengedikkan kepala ditambah alisnya dinaikturunkan. Sebuah kode bermakna ‘Kau yang bayar ya?’ kearah Parman.

“Buuuk, tambah teh hangat satu.” Teriaknya pada pemilik warung nasi yang sudah terkantu-kantuk sedari tadi.

“Sekalian, teh hangatnya kau bayarkan.” Muka kisutnya menghadap Parman.

koyone iso dadi tambah dowo iki. gak mari-mari cuuuuk… sambung sesok maneh, ngantuk.

Comments